Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FISIP UWKS) memperkuat kapasitas relawan sosial melalui pelatihan asesmen kasus menggunakan pendekatan Biopsikososialspiritual (BPSS). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut digelar di Aula Yayasan Pondok Kasih, Keputih, Surabaya, Kamis (25/9/2026).
Mengangkat tema “Penguatan Kapasitas Relawan Sosial dalam
Asesmen Kasus melalui Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial di Forum Lembaga
Kesejahteraan Sosial (LKS) Surabaya”, kegiatan diikuti 32 relawan sosial
secara hybrid, baik luring maupun daring.
Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan relawan
mengenai dasar-dasar pekerjaan sosial, meningkatkan kompetensi dalam melakukan
asesmen kasus sosial, serta memperkuat kemampuan dalam merancang intervensi
yang tepat dan etis.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi realisasi kerja sama
FISIP UWKS dengan Yayasan Pondok Kasih yang telah ditandatangani pada Agustus
2025 oleh Dekan FISIP UWKS, Sugeng Pujileksono, dan Ketua Yayasan Pondok Kasih
Surabaya, Indah Wati, B.A.
Dalam sambutan Ketua Yayasan Pondok Kasih yang dibacakan
Asisten Eksekutif YPK, Wiwik Widyawati, pihak yayasan mengapresiasi konsistensi
FISIP UWKS dalam merealisasikan kerja sama melalui berbagai program peningkatan
kapasitas sumber daya manusia.
“Pelayanan sosial merupakan perpaduan antara pelayanan dan
kasih secara profesional. Hati yang melayani tanpa didasari pengetahuan akan
kurang berdampak. Oleh karena itu, pelatihan semacam ini dapat meningkatkan
value dan kapasitas relawan sosial,” demikian sambutan Ketua Yayasan Pondok
Kasih.
Kolaborasi kedua institusi sebelumnya juga telah diwujudkan
melalui sejumlah kegiatan. Program Studi Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS,
misalnya, melakukan pengembangan manajemen mobil pintar serta kegiatan literasi
bagi anak-anak pengunjung mobil pintar pada 24 September 2026.
Sementara Program Studi Kesejahteraan Sosial sebelumnya
menyelenggarakan pelatihan dasar-dasar pekerjaan sosial pada 29 Agustus 2025
dan pelatihan manajemen Human Services Organisation (HSO) pada 10 April 2026.
Koordinator Relationship Yayasan Pondok Kasih, Johny R.M.
Sirait, menilai kolaborasi tersebut sebagai bentuk kerja sama yang produktif
karena telah menghasilkan sejumlah kegiatan konkret. Pola kolaborasi itu juga
dinilai berpotensi menjadi model kerja sama Yayasan Pondok Kasih dengan
perguruan tinggi lainnya.
Integrasikan Teori dan Praktik Lapangan
Pelatihan berlangsung intensif mulai pukul 13.00 hingga
16.00 WIB. Peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman
awal, kemudian mengikuti post-test pada akhir kegiatan guna melihat peningkatan
pengetahuan mengenai asesmen BPSS.
Materi utama Asesmen Biopsikososialspiritual (BPSS) disampaikan Sugeng Pujileksono selaku Ketua Tim PkM. Ia didampingi tim dosen dan mahasiswa yang terdiri atas Heru Dwi Herbowo, Chriestine Lucia Mamuaya, dan Gladis Sagita Putri.
Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis. Para relawan juga melakukan praktik langsung pengisian formulir asesmen BPSS pada kasus individu serta melakukan asesmen komunitas. Pendekatan tersebut diharapkan membuat relawan lebih terampil mengidentifikasi kebutuhan penerima manfaat sebelum menentukan bentuk intervensi sosial.
Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UWKS, Heru Dwi Herbowo, menekankan pentingnya penguasaan asesmen BPSS bagi relawan sosial di LKS sebelum melakukan intervensi.
Sugeng Pujileksono menjelaskan, pemilihan Yayasan Pondok
Kasih sebagai mitra PkM juga menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan
pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi dengan praktik pengabdian kepada
masyarakat.
“Kami ingin menempatkan yayasan ini sebagai laboratorium berbasis LKS yang nantinya juga menjadi wadah praktik dan magang bagi mahasiswa kami,” ujar Sugeng.
Dorong Profesionalisme Relawan Sosial
Manfaat kegiatan tersebut turut dirasakan para peserta. Salah seorang relawan, Jordan, berharap pelatihan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan untuk memperkuat profesionalisme relawan dalam mendampingi kelompok rentan.
Menurutnya, peningkatan kapasitas SDM menjadi penting karena
relawan merupakan salah satu ujung tombak pelayanan sosial yang berhadapan
langsung dengan masyarakat dan kelompok penerima manfaat.
“Kegiatan semacam ini perlu sering dilakukan agar relawan sosial semakin profesional dalam menjalankan tugasnya mendampingi kelompok rentan yang dibantu,” ungkap Jordan.
Melalui pelatihan tersebut, FISIP UWKS dan Yayasan Pondok Kasih berharap kolaborasi perguruan tinggi dengan lembaga kesejahteraan sosial tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kemitraan berkelanjutan yang mampu memperkuat kompetensi relawan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan sosial kepada masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara tim PkM
FISIP UWKS dan seluruh peserta relawan sosial.